Tag Archives: sajak

Hey, kamu

Kau ingat aku?

Aku rindu

Mungkin memang tak seharusnya ku merasa begitu

Tapi bukankah masih sewajarnya muncul rasa itu?

Aku tak apa bila kau dan mereka tahu

Tak apa pula meski kau tak rindu aku

Another Poem

I was scrolling down my tumblr timeline when I stumbled upon Kyu Jong’s 2nd letter for his fans from the army. It is full of beautiful words as always and at the end of the letter he put a poem that I found to be lovely and encouraging at the same time. Here it is ­čÖé

Credits : kyu-jong.com + (English Translation) xiaochu @ Quainte501.com & sgnoonas.wordpress.com

There Is No Such Road

No matter how hard the road may be
Before me,
Someone have walked past this road,
No matter how steep the road may be
Before me,
Someone has gotten through this road.
There is no such road that
No one has ever walked before.
Hope that my dark period of time
Will be helpful to
All the dear people
Who are having a similar journey.

-Pedro poem-

p.s. : I’m not exactly sure about the original source of the poem. Kyu wrote “-Pedro poem-” at the end of it so I think Pedro might have been the name of the poet.

Keluhan Peruntut Halaman-Halaman Ilmu

tak usah heran bila di sajak ini kau temukan kebosanan yang pekat

tak usah heran bila di sajak ini kau temukan kejenuhan yang tak tertahankan

aku tahu. memang kejenuhan ini yang sedang ku keluhkan

jenuh yang menjadi sebab kematian hormon hormon serotonin otakku

memang kebosanan ini yang melekat erat di setiap halaman tipis yang ada

membawa sinyal penolakan yang kuat setiap aku coba tenggelamkan diri dalam lautan kata

yang kadang orang panggil dengan nama ilmu

memang tak kutemukan bara semangat yang melonjak-lonjak

di hempasan paragraf demi paragraf yang datang tanpa jeda

berdiskusi satu sama lain dalam bahasa asing

mengenai senyawa senyawa ion kompleks atau apalah namanya

tak usahlah kau tanya aku

bahkan ku yakin para jenius kelasku pun sedang terkantuk-kantuk

meruntut kata demi kata di lembar-lembar putih yang identik dengan yang ada di hadapanku

atau mungkin merekapun sudah terlelap dengan buku tebal ini dalam genggaman

ah sudahlah

menuliskan kejenuhan ini tidak mengurangi rasa kantukku

mataku sudah terasa berat

mungkin memang sebaiknya aku tidur saja

Seperti Hujan

Aku mencintainya seperti aku mencintai hujan
Yang baru kusadari bahwa aku telah menantinya sekian lama
sejak kemarau mengeringkan tanahku

Aku mencintainya seperti aku mencintai hujan
Yang selalu datang dan pergi sesuka hatinya
Yang selalu dapat aku tatap dan rasakan ketika ia datang
Yang selalu menetes turun dari tanganku setiap kali aku merasa telah menangkapnya
Yang tak pernah kuketahui apakah kedatangannya kali itu akan membawa kesejukan atau bencana

Aku mencintainya seperti aku mencintai hujan
Yang selalu dapat  menahanku disana namun tak pernah dapat kutahan untuk tetap disini
Yang selalu mengaburkan pandanganku atas apapun yang ada di depanku
Yang selalu dapat menahanku dari apapun yang sedang kulakukan
untuk menatap ke luar jendela ketika ia datang

Aku mencintainya seperti aku mencintai hujan
Yang membuatku harus menahan diri ketika ia datang terlalu deras
Karena ku tahu sakit yang akan hinggap ketika matahari kembali menyengat

Aku mencintainya seperti aku mencintai hujan
Yang dapat kuketahui keberadaannya lewat beberapa klik di website ramalan cuaca
Namun tetap saja ku tak miliki keberanian untuk mengejar

Aku mencintai kedinginan yang terasa di tiap tetesnya
kedinginan yang terasa di tiap hembus angin yang menyertainya
kedinginan yang masih dapat kurasakan tiap kali ia pergi

Karena aku mencintainya, seperti aku mencintai hujan

Just a thought

mereka memintaku bicara

tapi aku tak tahu apa yang harus aku katakan

mereka memintaku terus berjalan

tapi aku tak tahu kemana harus mengarah

mereka memintaku tertawa

tapi aku tak tahu apapun yang lucu

mereka memintaku tersenyum

tapi aku tak merasa bahagia

namun lebih dari apapun

aku tak tahu mengapa

mereka terus memintaku

melakukan hal-hal yang tak kuinginkan